Aswaja (Ahlussunnah wal Jama’ah)

Ahlussunnah wal Jama’ah, yang lazim disingkat Aswaja, merupakan landasan ideologis dan manhaj berpikir Pagar Nusa sebagai Badan Otonom Nahdlatul Ulama. Aswaja tidak hanya dipahami sebagai istilah teologis, melainkan sebagai cara memahami, mengamalkan, dan menghidupkan ajaran Islam secara seimbang, moderat, dan berkelanjutan.

Dalam perspektif Nahdlatul Ulama, Aswaja berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman para sahabat Nabi, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in, serta dirumuskan secara sistematis oleh para ulama salafus shalih. Pemahaman ini kemudian dikembangkan oleh ulama khalaf agar tetap relevan dengan perubahan zaman tanpa meninggalkan prinsip dasar ajaran Islam.

Pagar Nusa menjadikan Aswaja sebagai fondasi utama pembinaan anggota. Ilmu pencak silat, bela diri, dan kanuragan tidak boleh berdiri sendiri tanpa arah ideologi yang jelas. Tanpa Aswaja, kekuatan fisik berpotensi menjadi alat kekerasan, dan keberanian dapat berubah menjadi kesombongan.

Nilai-nilai pokok Aswaja yang menjadi pedoman Pagar Nusa meliputi empat prinsip utama, yaitu:

  • Tawassuth (moderat), yakni sikap tidak berlebihan dan tidak ekstrem.
  • Tawazun (seimbang), yaitu keseimbangan antara jasmani dan rohani.
  • Tasamuh (toleran), yaitu sikap menghargai perbedaan.
  • I’tidal (adil dan lurus), yakni menempatkan sesuatu pada porsinya.

Tawassuth mengajarkan pendekar Pagar Nusa untuk bersikap tenang, tidak mudah terpancing emosi, dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Pendekar dituntut memiliki kekuatan fisik yang dibarengi kebijaksanaan dalam bertindak dan bertutur kata.

Tawazun membentuk keseimbangan antara latihan fisik dan pembinaan mental. Latihan pencak silat tidak hanya bertujuan mengasah teknik dan stamina, tetapi juga melatih disiplin, kesabaran, keikhlasan, dan tanggung jawab. Pendekar diajarkan untuk mampu menjalani kehidupan dunia tanpa melupakan orientasi akhirat.

Tasamuh menjadikan Pagar Nusa hadir sebagai penyejuk di tengah masyarakat yang majemuk. Pendekar dilatih untuk menghormati perbedaan budaya, tradisi, dan pandangan, selama tidak bertentangan dengan prinsip Islam. Sikap ini selaras dengan karakter Islam rahmatan lil ‘alamin.

I’tidal menanamkan sikap adil dan tegas secara proporsional. Pendekar harus mampu bersikap tegas ketika diperlukan, namun tidak melampaui batas dan tidak bertindak sewenang-wenang. Kekuatan digunakan untuk melindungi, bukan menindas.

Dengan Aswaja, Pagar Nusa membentengi anggotanya dari paham radikal, ekstrem, dan ideologi yang bertentangan dengan ajaran Islam dan nilai kebangsaan. Aswaja menjadi kompas agar Pagar Nusa tetap berada pada jalur keilmuan, akhlak, dan persatuan.

Aswaja bukan sekadar diajarkan sebagai teori, tetapi dihidupkan dalam praktik organisasi, latihan, dan kehidupan bermasyarakat. Inilah yang menjadikan Pagar Nusa kokoh secara ideologi dan diterima luas oleh umat.