Keilmuan dan Spiritual

Keilmuan dalam Pagar Nusa dipahami sebagai amanah yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Ilmu bela diri, pencak silat, dan kanuragan bukan untuk pamer kekuatan, melainkan untuk perlindungan dan kemaslahatan.

Dalam tradisi Pagar Nusa, setiap ilmu harus memiliki sanad yang jelas. Sanad keilmuan menjamin bahwa ilmu diperoleh melalui proses yang sah, beradab, dan bertanggung jawab. Ilmu tanpa sanad dianggap tidak memiliki jaminan kebenaran dan keberkahan.

Adab ditempatkan di atas ilmu. Seorang pendekar yang berilmu namun tidak beradab dipandang belum sempurna. Oleh karena itu, ketaatan kepada guru dan penghormatan kepada sesama menjadi prinsip utama dalam proses latihan dan pembinaan.

Spiritualitas menjadi pondasi kekuatan sejati. Pagar Nusa membiasakan anggotanya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui doa, wirid, sholawat, dan amaliyah khas NU.

Spiritualitas berfungsi sebagai pengendali hawa nafsu. Dengan spiritual yang kuat, pendekar mampu menahan diri, tidak mudah terpancing emosi, dan tidak menyalahgunakan ilmu yang dimiliki.

Keseimbangan antara keilmuan dan spiritual melahirkan pendekar yang kuat secara fisik, matang secara mental, dan luhur secara akhlak. Inilah karakter pendekar Pagar Nusa yang diharapkan hadir di tengah masyarakat.