Ke-NU-an Pagar Nusa
Ke-NU-an merupakan identitas dasar Pagar Nusa yang tidak dapat dipisahkan dari Nahdlatul Ulama. Sejak kelahirannya, Pagar Nusa dirancang sebagai wadah pencak silat yang berfungsi menjaga ulama, tradisi, dan nilai keislaman khas NU.
Ke-NU-an bukan sekadar simbol organisasi, melainkan sikap hidup dan orientasi perjuangan. Pagar Nusa hadir sebagai pagar ulama, pagar umat, dan pagar bangsa dalam bingkai jam’iyah Nahdlatul Ulama.
Nilai ke-NU-an tercermin dalam penghormatan kepada ulama dan masyayikh. Dalam tradisi NU, ulama bukan hanya tokoh agama, tetapi penjaga sanad keilmuan dan moral umat. Oleh karena itu, pendekar Pagar Nusa dididik untuk taat, hormat, dan berkhidmah kepada para kiai.
Ke-NU-an juga tercermin dalam penjagaan tradisi dan amaliyah NU seperti tahlil, sholawat, yasinan, istighotsah, dan doa bersama. Amaliyah ini bukan sekadar rutinitas, melainkan sarana memperkuat spiritualitas, ukhuwah, dan keberkahan perjuangan.
Sebagai bagian dari NU, Pagar Nusa tidak berdiri di luar masyarakat. Pendekar didorong untuk aktif dalam kegiatan sosial, keagamaan, dan kemasyarakatan. Keberadaan Pagar Nusa harus membawa rasa aman dan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar.
Ke-NU-an juga menegaskan sikap kebangsaan. Nahdlatul Ulama sejak awal berkomitmen menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila, dan Bhinneka Tunggal Ika. Komitmen ini diwariskan kepada Pagar Nusa sebagai bagian dari tanggung jawab kebangsaan.
Pendekar Pagar Nusa ditanamkan jiwa nasionalisme yang selaras dengan ajaran Islam. Bela diri bukan untuk melawan negara, melainkan untuk menjaga ketertiban, persatuan, dan kedamaian.
Dengan ke-NU-an yang kuat, Pagar Nusa memiliki identitas yang jelas, arah perjuangan yang tegas, serta legitimasi moral di tengah masyarakat.