Pagarnusakampak.com – Sebuah foto lama kembali membuka jejak sejarah para pendekar pesantren yang memiliki peran penting dalam perkembangan ilmu pencak silat berbasis keilmuan dan adab. Dalam foto tersebut tampak Bapak Faisol Ketompen, Bapak Kadir Ketompen, KH. Ma’sum Jauhari (Gus Maksum), dan Abuya KH. Moh Hasan Saiful Islam, yang dikenal sebagai tokoh-tokoh silat pesantren pada masanya.
Ketiganya merupakan murid dari KH. Maksum Jauhari Lirboyo, khususnya dalam bidang ilmu pencak silat. Proses keilmuan yang dijalani tidak hanya menekankan penguasaan teknik bela diri, tetapi juga pembentukan mental, adab, dan spiritualitas.
Bapak Kadir Ketompen dalam kisahnya, bahwa awal perkenalannya dengan Abuya KH. Moh Hasan Saiful Islam terjadi melalui jalur persilatan. Ia menyampaikan bahwa jika mampu mengalahkan Non Tobeng, nama masyhur Abuya saat kecil, maka ia akan berguru kepadanya dan kepada Gus Maksum. Namun dalam pertandingan silat yang terjadi, Pak Kadir mengalami kekalahan dan dari peristiwa tersebut kemudian memantapkan diri untuk berguru kepada Abuya dan Gus Maksum.
Pada masa mudanya, Abuya KH. Moh Hasan Saiful Islam dikenal memiliki kemampuan pencak silat yang kuat. Setiap bertemu dengan ahli silat, kerap terjadi adu kemampuan sebagai bagian dari pengujian ilmu. Diceritakan, ilmu silat tersebut kini menurun kepada Non Adiel.
Selain kepiawaian dalam pencak silat, Abuya juga dikenal menguasai amalan kanuragan dan amalan kesaktian. Dalam beberapa kisah, beliau kerap menjadi kunci kemenangan dalam permainan tradisional sodor. Bahkan disebutkan, dengan ucapan “Cekkak”, lawan dapat terdiam dan tidak mampu bergerak.
Cerita dari masyarakat sekitar menyebutkan bahwa latihan silat Abuya di depan musholla merupakan hal yang lumrah. Beliau disebut mampu melompat dari lantai dua ke bawah dan sebaliknya, termasuk saat masih menimba ilmu di Pondok Pesantren Genggong. Kisah-kisah tersebut hingga kini masih dikenang oleh masyarakat sekitar.
Seiring perjalanan waktu, Abuya KH. Moh Hasan Saiful Islam memilih untuk meninggalkan amalan-amalan kanuragan tersebut. Ilmu-ilmu itu diberikan kepada seorang sahabatnya di Desa Ganting, dan tidak diwariskan kepada anak-anaknya. Langkah ini mencerminkan kedalaman laku spiritual dan kebijaksanaan beliau dalam memaknai ilmu.
Kisah para pendekar pesantren ini menjadi bagian penting dari sejarah pencak silat Nusantara yang tumbuh dari lingkungan pesantren, mengajarkan bahwa kekuatan sejati selalu berjalan seiring dengan adab, keikhlasan, dan pengabdian. Al-Fatihah untuk beliau-beliau semua.
#sejarahpendekar
#psnupagarnusa
